Skip to main content

PAT Online : Orang Tua Harus Jujur Demi Siswa

PAT SEKOLAH

PAT atau Penilaian Akhir tahun merupakan istilah yang menggantikan UKK (ulangan kenaikan kelas). Ada yang berbeda dengan ulangan kenaikan kelas tahun ini dimana kondisinya tidak memungkinkan untuk dilakukan didalam kelas sehubungan adanya pandemi covid 19. Sejak maret 2020 Siswa dari tingkat SD sudah mulai belajar dirumah.

Padahal biasanya menjelang bulan Juli sudah masuk tahun ajaran baru. Pemerintah melalui dinas terkait akhirnya memutuskan PAT (Penilaian Akhir tahun) sekolah diadakan pada bulan Juni 2020.

Saya sebagai wali murid tadinya agak asing dengan istilah ini namun setelah dijelaskan wali kelasnya melalui WA akhirnya saya jadi tahu. PAT ini melengkapi penilaian lain seperti ulangan harian, UTS (ulangan tengah semester), UAS ulangan akhir semester.

PAT diadakan secara online mulai Senin 7 Juni 2020 dan Siswa bisa mengerjakan soal ulangan dari rumah. Soal dikirimkan oleh guru kenomor WA walimurid kemudian siswa mengerjakannya. Namun demikian dari pemantauan saya ada sekolah dasar yang PAT nya tidak secara online tapi tidak juga disekolah. Walimurid datang kesekolah untuk mengambil soal kemudian dibawa pulang kerumah untuk dikerjakan. Setelah selesai baru diberikan kegurunya lagi disekolah. Intinya sih sama yaitu mengerjakan soal ulangan disekolah.

Baca Juga : Sistem Zonasi sekolah di PPDB siapa diuntungkan?

Dengan mengerjakan soal dirumah tentunya pengawasannya tidak seperti ketika ulangan disekolah. Pengawasan sepenuhnya dilakukan oleh walimurid. Nah...disinilah kejujuran orang tua diuji. Saya yakin setiap orang tua menginginkan hasil ulangan anaknya bagus. Namun tentu sangat disayangkan jika hasil itu didapat dari cara-cara yang tidak benar atau orang tua ikut membantu mengerjakan soal sama saja nilai yang didapat bukan murni dari kemampuan siswa.

Orang tua boleh membantu sekedar dari sisi teknis misalnya memberitahu bagaimana cara mengisinya atau menginformasikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan. Jika orang tua berbuat curang demi nilai selain menyalahi tujuan sekolah yaitu untuk meningkatkan kompetensi peserta didik yang kasihan sebenarnya anaknya sendiri. Nilai bagus tapi sebenarnya belum tentu menguasai pelajaran yang diujikan.

Saya yakin guru juga lebih mengetahui kemampuan anak didiknya baik melalui ulangan harian maupun ulangan lainnya. Sebagai contoh nilai ulangan biasanya Cuma mendapatkan nilai 6 – 7 tiba tiba nilai PAT nya menjadi 9 atau 10. Guru tentunya tanda tanya. 
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar